Populasi Ikan Mulai Meningkat, Nelayan Kumeke-Nanas di Boltim Rasakan Dampak Positif Pendampingan Rare Indonesia

oleh -37 Dilihat
oleh

Kolaborasi komunitas Rare Indonesia bersama Kelompok PAAP Elang Laut Kawasan Pulau Kumeke-Nanas dan KKP serta Aparat Terkait Gelar patroli pengawasan di Boltim, Rabu (20/5/2026).(Foto:ist).

Manado, Infosulut.id – Kolaborasi komunitas Rare Indonesia bersama Kelompok Pengelola Akses Area Perikanan (PAAP) Elang Laut Kawasan Pulau Kumeke-Nanas, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), serta aparat terkait menggelar patroli pengawasan di perairan Pulau Kumeke dan Pulau Nanas, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, Rabu (20/5/2026).

Kegiatan patroli tersebut turut melibatkan perwakilan Kodaeral VIII Manado, Polres Bolaang Mongondow Timur, Dinas Perikanan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, penyuluh perikanan provinsi, hingga KKP pusat.

Ketua Kelompok Nelayan Kumeke-Nanas, Nasrun Damero, mengapresiasi pendampingan yang dilakukan Rare Indonesia selama tiga tahun terakhir karena dinilai memberikan dampak positif bagi ekosistem laut dan kehidupan nelayan setempat.

“Alhamdulillah, sekarang kondisi mulai agak ringan. Ikan makin lama makin banyak. Dulu karang yang menjadi rumah ikan sudah banyak yang hancur, tetapi setelah ada pendampingan dari Rare Indonesia sudah mulai sedikit aman,” ujar Nasrun.

Ia menjelaskan, patroli pengawasan dilakukan rutin sekitar satu kali setiap bulan sebagai upaya mencegah praktik ilegal seperti pemboman dan peracunan ikan yang sebelumnya kerap terjadi di kawasan tersebut.

Menurutnya, dalam patroli kali ini petugas menemukan dua nelayan asal Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) di kawasan larang ambil (KLA). Setelah dilakukan pemeriksaan dan wawancara, nelayan tersebut diketahui hanya menggunakan jaring dan tidak ditemukan aktivitas mencurigakan.

“Ada dua titik kawasan larang ambil, yakni di bagian barat Pulau Nanas dan bagian selatan Pulau Kumeke. Kami sering menemukan nelayan yang menggunakan bom dan racun ikan di sekitar kedua pulau itu. Makanya setiap bertemu nelayan kami wawancara dan beri nasihat supaya mereka lebih mengerti,” katanya.

Nasrun menyebutkan, sekitar 200 nelayan menggantungkan hidup di perairan Pulau Kumeke dan Pulau Nanas. Namun, rata-rata penghasilan nelayan masih tergolong minim, yakni sekitar Rp100 ribu per hari dan bisa lebih rendah saat cuaca buruk.

Selain patroli pengawasan, kelompok masyarakat bersama Rare Indonesia juga menjalankan sejumlah kegiatan konservasi lain seperti penanaman mangrove, bersih pantai, pemantauan kawasan, hingga pengembangan usaha masyarakat.(Kifli).


“Di sini ada empat divisi, yaitu pengawasan, penjangkauan, pemantauan, dan usaha,” jelasnya.
Meski demikian, Nasrun menilai perhatian pemerintah terhadap kebutuhan kelompok nelayan masih terbatas. Ia berharap adanya dukungan lebih lanjut, termasuk pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), MCK, serta sekretariat bagi Kelompok Kumeke-Nanas.

“Kami berharap ada perhatian pemerintah untuk fasilitas penunjang kelompok nelayan dan pengawasan kawasan supaya keberlanjutan sumber daya laut tetap terjaga,” pungkasnya.