Ketum SIEJ Dorong Jurnalis Kawal Isu Reklamasi dengan Perspektif Lingkungan dan Sosial

oleh
oleh

Manado,Infosulut.id — Jurnalis tidak boleh hanya menjadi corong kepentingan ekonomi dalam memberitakan isu-isu pembangunan seperti reklamasi pesisir.

Hal ini disampaikan Ketua Umum Society of Indonesian Environmental Journalists (SIEJ), Joni Aswira, pada Minggu (20/07/2025) Pantai Bitung Karangria, Kota Manado saat diskusi Publik I Jambore Jurnalistik 2025.

kegiatan tersebut mengusung tema “Reklamasi dan Masa Depan Pesisir Manado: Siapa Diuntungkan, Siapa Tergusur?”

Di hadapan peserta diskusi yang sebagian besar berasal dari kalangan pers, Joni menekankan bahwa jurnalisme lingkungan hari ini sangat dibutuhkan untuk mengimbangi narasi dominan yang kerap mengabaikan kerusakan ekologis dan dampak sosial.

“Jurnalis jangan hanya melihat dari perspektif ekonomi. Kita harus mengangkat dampak eksploitasi alam terhadap ruang hidup masyarakat, terutama kelompok yang paling rentan seperti nelayan,” ujar Joni.

Menurutnya, di tengah tiga krisis global yang sedang berlangsung, yaitu kehancuran keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan deforestasi, peran jurnalis menjadi semakin vital.

Ia menyebut bahwa pada 2023, suhu bumi telah melampaui ambang batas suhu yaitu 1,5 derajat celcius yang disepakati dalam Paris Agreement, sebuah sinyal serius bahwa dunia sedang bergerak ke arah krisis iklim yang lebih parah.

“Banyak hal sederhana yang dialami masyarakat, seperti laut surut lebih lama atau kelangkaan pangan. Ini adalah dampak nyata dari krisis ini. Tapi masyarakat belum menyadari. Di sinilah peran jurnalis, yaitu menyederhanakan narasi perubahan iklim agar mudah dipahami publik,” jelasnya.

Joni juga mengingatkan bahwa media harus kritis terhadap proyek-proyek yang mengatasnamakan investasi, terutama jika mengorbankan lingkungan dan komunitas lokal.

Ia menegaskan bahwa jurnalis lingkungan tidak anti terhadap investasi, tetapi memperjuangkan keadilan ekologis dan sosial sebagai prinsip utama.

“Jurnalis harus menjadi suara penyeimbang. Jangan sampai kita ikut menyingkirkan komunikasi marginal, seperti masyarakat nelayan yang terusir dari ruang hidupnya akibat reklamasi,” tambahnya.

Diskusi yang dimoderatori Koordinator SIEJ Sulawesi Utara, Finda Morina, ini juga dihadiri oleh perwakilan Wali Kota Manado, Eddy Masengi dari DLH Kota Manado, serta pakar lingkungan dari Universitas Sam Ratulangi, Prof Rignolda Djamaluddin.

Melalui forum ini, SIEJ mendorong jurnalis di daerah untuk memperkuat liputan lingkungan yang berpihak pada keberlanjutan dan keadilan, bukan sekadar membingkai pembangunan dari sisi pertumbuhan ekonomi semata.

(Candle)