Minut,Infosulut.id – Solidaritas Pencinta Alam Minahasa Utara (SPAMU) menggelar kegiatan Diskusi & Deklarasi untuk menjaga gunung Klabat dari bahaya sampah yang mengancam .
Kegiatan yang mengusung tema ”Jaga Klabat Untuk Masa Depan Rakyat” tersebut, dihadiri langsung oleh berbagai macam aktivis hingga organisasi pencinta alam di Minahasa Utara dan sekitarnya, Senin (18/08/2025) Airmadidi, Sulawesi Utara.
Dalam Kegiatan, dihadirkan juga pihak-pihak yang memumpuni sebagai pemantik dalam Diskusi dan Deklarasi tersebut, baik dari Pecinta Alam maupun Pemerintah.
Juga kegiatan turut diramaikan dengan lomba memperingati hari HUT kemerdekaan Republik Indonesia ke-80 seperti lomba karya sampah, dan penampilan puisi serta pameran lukisan sampah.

Tampil Candra atau akrab disapa Mandrex yang berasal dari Solidaritas Pencinta alam Minahasa Utara (SPAMU), ia menjelaskan sejarah singkat tentang SPAMU yang terbentuk dari kesadaran dan kerelaan anak-anak yang berada diMinahasa Utara untuk menjaga Gunung Klabat .
”SPAMU terbentuk sejak 2012 dibulan Juni, SPAMU terdiri dari berbagai organisasi, dan kami semua berada diseputaran kaki gunung Klabat, lebih kurang ada 12 organisasi yang bergabung,”ungkap Candra .

Lanjut Candra mengatakan, kegiatan yang masyarakat tahu kami adalah penjaga Gunung Klabat, Padahal kami hanyalah sekumpulan relawan yang terpanggil untuk menjaga gunung Klabat, awalnya tujuan mereka hanya untuk memperingatkan siapapun yang mendaki Gunung Klabat agar menjaga kebersihan serta dibuatkan pos data, dibawah pos 1 lebih tepatnya diperkebunan warga.
”Pos SPAMU dahulu hanya menggunakan terpal, dan selalu mengingatkan orang yang lewat untuk selalu membawah pulang sampah, dan kami tidak memiliki aturan baku, sehingga kami membuat acara ini agar bisa menjaga Gunung Klabat, diharapkan ketika ada aturan, bisa kami pajang dan lebih tertata,”beber Candra

Kembali lagi Candra bercerita bahwa orang orang hanya melihat dari sosial media, tetapi ketika melihat lebih dalam Klabat penuh dengan sampah, apalagi katanya di pos 5 dan 6 sampahnya menumpuk, orang orang sering meremehkan mereka dan bertanya guna SPAMU apa, spontan saja Candra pun menjelaskan kalo mereka hanyalah orang orang yang merelakan hidupnya untuk menjaga Gunung Klabat .
Candra juga berbagi bagaimana solusi konkrit mengenai permasalahan sampah di Gunung Klabat yang coba diselesaikan oleh pihak SPAMU, salah satunya dengan mensosialisasikan masalah sampah di SMA/SMK airmadidi. ”Kami saling membantu untuk masa depan Gunung Klabat dan jangan sampai Gunung Klabat rusak”jelasnya .
Sementara itu tampil pemantik yang ke dua yakni Marlon Kamagi yang bergerak dalam bidang pengelolaan sampah khususnya .
”Saya sejak 2009, mengambil pendidikan S2 di Unhas dan mengadakan penelitian di Gunung Klabat, selama beberapa tahun ini apakah pernah melihat Kalawat atau Babi rusa, pemilik sah gunung itu adalah hewan itu, teman teman mengenal Kalawat/Klabat, juga seperti Yaki dan sebagainya,”cetus Kamagi.
Kembali Kamagi melanjutkan narasinya, dalam penelitian tersebut ia dan menemukan inkonsistensi dari pihak pemerintah dalam menjaga Gunung Klabat .
”Banyak alat-alat berat yang sedang menggali di Gunung Klabat, tahun 2020 saya orasi dan mengatakan minahasa Utara unik, karna Gunung Klabat adalah gunung tertinggi di Sulawesi Utara dan letaknya di Minahasa utara, dan ini pujian untuk kawan kawan SPAMU mereka bekerja dalam diam untuk masa depan Gunung Klabat . Peran kita sebagai penjaga harus diperkuat, masyarakat komunitas dan media perluh kolaborasi untuk gerakan Konservasi,”jelas Marlon Kamagi.
Kemudian iapun menawarkan solusi konkrit untuk khasus sampah yang berada diGunung Klabat, menurutnya Pemerintah dan Masyarakat harus bekerja sama dalam hal tata kelola sampah di Gunung Klabat.
”Salah satu yang kita tawarkan adalah Bank sampah Gunung, setiap pendaki yang mau naik Gunung, harus punya manivest barang – barang yang dorang bawah, sehingga kita bisa melihat mana yang berpotensi menghasilkan sampah itu harus dibawah turun,”katanya
Tak sampai disitu, Kamagi juga menjelaskan dalam manivest tersebut, para pendaki wajib memberikan jaminan, sehingga kalau ada masyarakat yang mendaki Gunung kemudian dia turun dan membawah sampahnya, maka uang jaminan tersebut dikembalikan.
”Tapi kalau mereka tidak membawah sampahnya, uang jaminannya ditahan, jadi itu mekanisme Bank Sampah Gunung, dan wajib diedukasi oleh seluruh pencinta alam ”sahut Kamagi .
Selanjutnya ia juga memberikan solusi lain, dimana pentingnya peranan para Pencinta Alam untuk membimbing orang-orang yang tidak memahami substansi pendakian itu seperti.
”banyak anak-anak muda hanya mau ikut-ikutan mendaki Gunung, tanpa tau cara nya bagaimana, akhirnya terjadi kecelakaan dan sebagainya, juga harus mengedukasi pentingnya pengelolaan sampah,”beber Kamagi .
Kemudian ia juga menjelaskan mengenai perda yang dicanangkan oleh kawan-kawan SPAMU, bahwa itu terlalu lama sebab gunung Klabat berada di dua kabupaten kota, saran yang diusulkan olehnya adalah membentuk peraturan Bupati.
”Bagusnya ada aturan Bupati, supaya Bupati langsung tanda tangan, namun juga tetap harus dilibatkan akademik label,”pungkasnya .
Sementara itu ditempat yang sama Pak Audi Selaku Perwakilan Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Minahasa Utara, mengungkapkan. Untuk persoalan sampah bukan hanya tanggung jawab Pemerintah semata, tetapi masyarakat juga wajib sadar akan lingkungan.
”Bukan menjadi tanggung jawab kami saja, tetapi kesadaran masyarakat juga penting, sebenarnya masyarakat harus peduli, supaya pemandangan tidak tertumpuk dan ini sudah menjadi isu nasional. 300 lebih TPA yang akan ditutup bila tidak ada pengelolaan sampah yang baik,”jelas Audi.
Adapun Peran pemerintah yang dilontarkan Audi yakni, pembuat kebijakan regulasi, dan ia bersyukur dari pihak acara untuk ke jenjang pembuatan Perda khususnya pengelolaan sampah di Gunung Klabat, dan ia berharap semoga secepatnya bisa terealisasikan.
”Pemerintah juga menjadi fasilitator dalam memberikan tempat pengelolaan sampah seperti TPA, BANK Sampah dan TPS3R, tiap desa 1 Bank sampah, masih sosialisasi sebab keterbatasan dari dinas lingkungan hidup, dan masalah pembiayaan,”pungkas Audi
Diketahui sebelum dilakukannya diskusi telah dilaksanakannya deklarasi untuk menjaga Gunung Klabat dan awal untuk menuju ke jenjang pembuatan Peraturan Daerah (Perda)
(Candle)
