Mimpi Besar Olivita Runtuwene, Dari Cemilan Rumahan Khas Daerah Bisa Mendunia

oleh -140 Dilihat
oleh

Olvita Runtuwene, menawarkan produknya di  stand pameran saat ikut Wisata Kuliner Ramadhan 2025 di parkiran Megamall Manado, pada Rabu (26/03/2025).(Foto : Julkifli Madina).

Mari masuk, sambil lihat bapak dan ibu. Banyak produk yang dijual di sini, mau yang mana ? tanya Olvita Runtuwene wanita yang berparas cantik itu, kepada sejumlah tamu yang masuk di stand yang luas hanya 4×5 meter tersebut.

Penjualan cemilan produk khas daerah di stand pameran itu, berlangsung di wisata kuliner ramadhan 2025 di kawasan Megamas Manado pada Rabu (26/03/2025).

Stand pameran yang dijaga langsung oleh Olvita Runtuwene tersebut, banyak diminati para tamu yang hadir.

Olvita Runtuwene adalah merupakan pemilik dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) wawu cemilan yang memproduksi makanan cemilan khas daerah dengan kemasan modern yakni rempeyek roa, cakalang, tuna dan kacang.

Sebelum memulai produksi, dilakukan brifing untuk target yang akan di kerjakan dan Walaupun masih skala mikro tapi tempat usaha mereka sudah melakukan hal yang dilakukan perusahan besar. Dimana, apa yang di kerjakan sesuai alur dan Standard Operating Procedure (SOP) yang berlaku.(Foto : Dokumentasi Wawu Cemilan).

Wawu Cemilan, dibawah PT. Bibles Berkat Jaya ini, berdiri sejak 2022 di Desa Maleambao Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara.

“Saya memang berkomitmen dengan motivasi buka usaha ini yaitu selain bisa membantu ekonomi keluarga, juga bisa membuka lapangan kerja untuk warga sekitar terutama para ibu rumah tangga dengan menjadi karyawan,”kata istri dari Chrisfandi Tinggehe ini.

Mimpi untuk menuju ekspor produknya pun terus dia perjuangkan sampai saat ini.

“Saat buka usaha, mimpi kami bukan hanya menjadi supplier atau penyuplai lokal saja, tetapi produk saya ini bisa di ekspor keluar Negeri,”kata ibu dua anak ini dengan sangat optimis.

Dia pun menceritakan awal mula membuka usahanya 

“Motivasi saya mendirikan usaha ini karena pada saat itu pasca pandemi Covid-19, waktu itu saya diberhentikan sebagai karyawan atau Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dari jabatan menejer disalah satu restoran dan saya memutuskan untuk membuka usaha sendiri,”kata perempuan yang sudah berumur 34 Tahun ini.


Proses produksi pembuatan cemilan khas Daerah dari UMKM wawu cemilan.(Foto:Dokumentasi Wawu Cemilan).

Untuk pendapatan awal buka usaha dijelaskan dia, hanya puluhan ribu rupiah saja dan hari itu juga habis dipakai untuk makan, karena hasil produksi waktu itu hanya bisa dititip di warung-warung sembako warga di kampung.

“Mulai berkembang usaha saya nanti ada binaan dari Bank Indonesia Perwakilan Sulut sejak Januari 2024 bersamaan dengan UMKM yang lain,” ungkap wanita kelahiran 17 Oktober 1990 di Desa Palaes Kecamatan Likupang Barat Kabupaten Minahasa Utara ini.

Lanjut dia, awalnya menjadi pelaku UMKM binaan BI Sulut saat melihat ada link pendaftaran yang disediakan dan langsung mendaftar.

“Ternyata setelah terdaftar banyak manfaat dan positifnya didapat baik dipermudah mendapatkan izin usaha, sertifikat halal dan Izin Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), dan lainnya,”ungkapnya.

Dirinya pun menjadi senang karena mindset karekter menjadi pengusaha memang benar-benar dibentuk setelah ikut pelatihan di BI Sulut. Dimana, dia diajarkan bagaimana bisa menciptakan lapangan kerja dan bisa berbisnis dengan cara yang profesional dan benar.

“Setelah ikut pelatihan, omset saya terus meningkat dimana penjualan dengan harga Rp 13.000 per bungkus banyak yang terjual, karena kami diajarkan cara berjualan di media sosial seperti di tiktok, FB, IG dan lainnya dan ini sangat membantu kami selaku UMKM yang kecil,” jelas Olvita Runtuwene.

Dia pun merasa senang dengan adanya BI Sulut yang telah membina UMKM miliknya dan sekarang telah Sukses menjual produknya di toko modern yang ada di Sulawesi Utara.

“Saya bersama UMKM yang lain merasa sangat terbantu dengan adanya BI Sulut yang telah membina dan membantu kami untuk mengembangkan usaha dari hanya kemasan rumahan yang biasa saja dengan modal pas pasan menjadi kemasan modern,”ungkapnya.

Sekarang ini usahanya berbuah manis, kata Olvita Runtuwene, sejak Tahun 2025 ini, UMKM miliknya telah melakukan Memorandum of Understanding (MoU) dengan pihak Minimarket modern seperti Alfamart di Sulut dan saat ini produknya telah dipasarkan di 44 toko milik Alfamart.

“Saya sangat senang sekali karena saat ini pendapatan sekarang sudah mencapai Rp 20.000.000 setiap Bulan,”ungkapnya.

Selain itu, dirinya pun merasa sangat bersyukur karena selain bisa menjual produknya di toko modern, bisa juga menjual di pameran yang dilaksanakan pihak BI Sulut mapun Pemerintah.

“Kalau ada pameran, sudah pasti omset kami akan naik, karena banyak tamu dari luar Daerah hingga dari luar negeri yang membeli,”katanya.

UMKM miliknya itu, mendapatkan bantuan dari BI Sulut berupa modal usaha, pendampingan bisnis, pelatihan, peluang pasar, peralatan produksi, fasilitas pembiayaan dan mendapatkan peningkatan akses pasar.

“Saya juga bersyukur karena selain dari BI Sulut, bantuan dan pembinaan serta pelatihan datang juga dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara melalui Dinas Perindustrian,”ungkap Olvita Runtuwene.

Senang sekali Pemkab Minut kata dia, telah memberikan bantuan peralatan dalam membantu peningkatan produksi produk miliknya.

“Saat ini pekerja di UMKM saya ada 6 karyawan dan mereka semua sudah dilengkapi dengan BPJS Ketenagakerjaan dan kesehatan dan kedepan dari tempat produksi rumahan akan dibangun gedung produksi sendiri dan dimana sekarang sudah sementara didirikan,” tutupnya.

Bantuan dan pembinaan datang juga dari Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara dalam hal ini Bupati, Joune Ganda, SE, MAP, MSi dan Wakil Bupati, Kevin William Lotulung, SH, MH melalui Dinas Perindustriannya.

Kepala Dinas Perindustrian Kabupaten Minahasa Utara, Agenes Tumangkeng, SE.MM menyampaikan, UMKM diwilayahnya semua dibantu dan juga diberikan pembinaan dan Pelatihan.

“Kalau untuk UMKM Wawu Cemilan belum lama ini kami bantu dengan berikan bantuan berupa vrizer untuk membantu penyimpanan ikan agar tidak rusak, kompor untuk masak, rak stainless dan lainnya untuk kebutuhan usahanya,” kata Kadis Tumangkeng.

Lanjutnya, bantuan yang diberikan Pemerintah adalah untuk membantu mereka agar usaha bisa berkembang lebih baik.

“Bupati kami sangatlah mendukung penuh UMKM disini dan menyuruh kami turun langsung kelokasi usaha dan melihat apa saja yang kurang dan kendala apa yang mereka hadapi supaya bisa kami bantu dengan cepat,” tegasnya.

Dalam mendukung mempromosikan usaha masyarakat di daerah ini, kata Kadis Agenes Tumangkeng, Dinas Perindustrian Minut turut membantu menyebarluaskan produk UMKM lewat media sosial milik dari Dinas Perindustrian yakni di FB, Tiktok, IG dan lainnya.

“Bukan hanya Wawu Cemilan yang kami bantu, semua UMKM di Minut kami fasilitasi dan bantu dan ini bentuk kepedulian Pemerintah peduli pada masyarakatnya untuk meningkatkan ekonomi keluarga,”jelas Agenes Tumangkeng.

Lanjutnya lagi, Pemerintah Minut juga membantu UMKM dalam pembuatan HAKI, Sertifikat halal dan ijin lainnya.

Secara terpisah, melalui Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut, Andry Prasmuko Rabu (26/03/2025) menyampaikan, saat ini sudah seratus lebih UMKM yang dibantu diberikan pelatihan oleh BI Sulut.


Kepala Bank Indonesia (BI) Perwakilan Sulut, Andry Prasmuko.(Foto:Julkifli M).

“Salah satu kegiatan “Onboarding UMKM”, merupakan salah satu komitmen Bank Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekonomi baik di daerah maupun secara nasional melalui penguatan strategi kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan digital,”jelas Andry Prasmuko.

Andry menjelaskan, yang dilatih merupakan UMKM yang bergerak di berbagai jenis produk kerajinan hingga kuliner untuk mendapatkan edukasi terkait pemanfaatan platform digital marketplace.
Termasuk katanya, untuk transaksi pembayaran maupun pencatatan transaksi penjualan.

“Tujuan utamanya program ini yaitu untuk pengembangan produk unggulan daerah,” katanya.

Katanya lagi, ada program Wirausaha Unggulan Sulut (Wanua) dan Petani Unggulan Sulut (Patua) yang diharapkan mampu memperkuat pengembangan ekosistem UMKM setempat.

“Melalui Program Wanua-Patua berharap dapat terus memperkuat pengembangan ekosistem UMKM di Sulut,” kata dia.

Dia melanjutkan, dukungan dari pemerintah Provinsi Sulut dan berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi salah satu kunci utama keberhasilan program ini dalam memberi dampak sosial dan ekonomi yang lebih besar ke masyarakat.

“Melalui program ini, telah lahir wirausahawan lokal terbaik yang bisa menjadi inspirasi dan contoh model bagi pelaku usaha lainnya di Sulut,”ungkapnya.

Pada gilirannya, imbuh dia apabila ini dilanjutkan akan berkontribusi secara nyata dalam menggerakkan perekonomian daerah.

“Jadilah wirausaha dan petani unggulan yang dapat membawa Sulawesi Utara ke arah yang lebih maju,” jelasnya.

Katanya lagi, Bank Indonesia siap mendukung penuh perjalanan para Wanua dan Patua Sulut.

“Antusiasme dari pelaku usaha dan petani Sulut terhadap program ini sangat baik dan ini dibuktikan sejak dilaksanakan pembukaan pendaftaran dengan meningkatkan standar kualitas dalam persyaratan sejak 10 Desember 2024 hingga 17 Januari 2025 terdapat total pendaftar mencapai 187 orang (128 Wanua dan 60 Patua) dan Kemudian setelah dilakukan seleksi administrasi yang cukup ketat, terpilih total 133 peserta yang akan mengikuti kegiatan kurasi terdiri dari 47 peserta calon Wanua untuk 2025 dan 26 peserta calon Patua pada 2025,”tegasnya lagi.

Selain itu, kata dia, ada 60 peserta alumni Wanua yang mendaftarkan diri untuk mengikuti proses kurasi demi meningkatkan kualitas dan daya saing produk mereka.

Solusi konkret pun diutarakan pengamat ekonomi Sulut yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis serta Koordinator Program Studi (Korprodi) Magister Manajemen (MM) Universitas Sam Ratulangi Manado, Joy Elly Tulung.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi Manado, Joy Elly Tulung.(Foto: Ist).

Dia mengutarakan, untuk mendapatkan solusi UMKM di Sulut agar bisa maju dan berkembang serta tembus di pasar ekspor, maka pengembangan UMKM di Sulut membutuhkan perhatian serius dari Pemerintah agar mampu menjadi motor pertumbuhan ekonomi sekaligus pembawa identitas daerah ke pasar global.

“Kisah sukses UMKM seperti Wawu Cemilan menunjukkan bahwa dengan dukungan modal, sertifikasi, serta promosi, produk sederhana dari dapur rumah tangga agar bisa menembus pasar ekspor, sangat pentingnya kehadiran kebijakan pemerintah yang lebih proaktif,”ungkap Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Manado ini.

Joy Elly Tulung pun berharap agar Pemerintah daerah perlu membangun sentra UMKM terpadu yang tidak hanya menjadi pusat pelatihan dan pendampingan, tetapi juga membuka akses permodalan serta pasar ekspor.

“Regulasi pengadaan barang dan jasa pemerintah yang memberi porsi besar bagi produk UMKM harus benar dan serius diimplementasikan, sehingga produk lokal bisa terserap secara berkelanjutan,”tegasnya.

Selain itu kata dia, penyederhanaan perizinan seperti sertifikasi halal, dan BPOM menjadi keharusan agar UMKM lebih cepat naik kelas.

“Dukungan sarana prasarana, teknologi produksi, serta integrasi data UMKM antar kabupaten dan Kota akan memperkuat daya saing,”ungkapnya.

Di sisi lain, dia menambahkan, promosi dan misi dagang internasional juga harus diperluas, sehingga produk khas Sulawesi Utara seperti rempeyek roa, cakalang, dan olahan lokal lainnya bisa dikenal dunia.

“Dengan sinergi kebijakan yang komprehensif ini, UMKM di Sulut tidak hanya diperhatikan, tetapi juga harus benar diberdayakan untuk menjadi penggerak utama perekonomian daerah dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” katanya lagi.

Diketahui, program BI Sulut untuk UMKM telah membantu peningkatan perekonomian di Daerah Sulawesi Utara.

Data Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I Tahun 2025 dari BPS Provinsi Sulaweai Utara.(Foto:Dokumen BPS Sulut).

Berdasarkan data melalui link dari Biro Perekonomian Provinsi Sulut yang di ambil data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut,  untuk pertumbuhan ekonomi di Triwulan I 2025 Provinsi Sulut mengalami pertumbuhan sebesar 5,62 persen (y-on-y). 

Sementara untuk UMKM di Indonesia, berdasarkan data dari Kadin Indonesia melalui link resminya  maka, peran UMKM sangat besar untuk pertumbuhan perekonomian Indonesia. Dengan jumlahnya yang mencapai 99% dari keseluruhan unit usaha, menjadikan UMKM sebagai sektor yang mendominasi struktur ekonomi Indonesia.

Menurut data Kementerian Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), terdapat sekitar 30,18 juta unit UMKM yang tercatat di Indonesia sampai 31 Desember 2024. Namun, jumlah ini belum mencakup UMKM dari sektor usaha pertanian, pemerintahan, jasa, dan lainnya.

Jumlah UMKM per sektor usaha yang sudah tercatat di Kementerian UMKM hingga 31 Desember 2024:

* Perdagangan besar dan eceran, reparasi dan perawatan mobil dan sepeda motor: 14.433.048 unit

* Penyediaan akomodasi, makanan, minuman: 6.400.667 unit

* Industri pengolahan: 4.164.542 unit

* Jasa lainnya: 1.906.799 unit

* Pengangkutan dan pergudangan: 1.169.310 unit

* Konstruksi: 307.519 unit

* Penyewaan dan sewa guna usaha tanpa hak opsi, ketenagakerjaan, agen perjalanan, dan penunjang usaha lainnya: 289.650 unit

* Pertambangan dan penggalian: 196.841 unit

* Pengelolaan air, air limbah, pemulihan material sampah, dan remediasi: 164.111 unit

* Pendidikan: 162.659 unit
Kesehatan manusia dan aktivitas sosial: 156.183 unit

* Real estat: 142.526 unit

* Kesenian, hiburan, dan rekreasi: 129.547 unit

* Aktivitas profesional, ilmiah, teknis: 124.287 unit

* Pengadaan listrik, gas, uap/air panas, udara dingin: 82.504 unit

* Keuangan dan asuransi: 57.589 unit

 
Kategori UMKM pada dasarnya dikelompokan berdasarkan besarnya modal usaha saat pendirian. Bila modal usahanya mencapai maksimal satu milyar rupiah (tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha), maka dikategorikan kelas Usaha Mikro. Usaha dengan modal usaha lebih dari satu milyar rupiah sampai dengan lima milyar rupiah masuk dalam kelas Usaha Kecil. Usaha dengan modal usaha lebih dari lima milyar rupiah sampai dengan sepuluh milyar rupiah masuk dalam kelas Usaha Menengah. Lebih besar dari ini, maka menjadi kelas Usaha Besar.

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia, berperan penting dalam menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

UMKM meliputi berbagai jenis usaha dengan kriteria berdasarkan modal usaha dan omzet penjualan, yang diatur dalam undang-undang.

Diketahui, saat ini Bank Indonesia melakukan pengembangan UMKM dengan berbagai program, seperti:

Program JAWARA (Jagoan Wirausaha), Program pengembangan klaster, Program onboarding UMKM. Bank Indonesia juga berupaya meningkatkan akses keuangan UMKM untuk mendukung stabilitas sistem keuangan.

Syarat menjadi UMKM binaan Bank Indonesia memiliki profil pribadi dan profil usaha, memiliki legalitas usaha dan sertifikasi, memiliki laporan omzet, memiliki informasi digital platform/e-commerce yang dimiliki, memiliki motivasi mengikuti program.

Penulis : Julkifli Madina