Dibalik Dukungan BI, TIFF Berawal Dari Festival Biasa Menjadi Ajang Internasional Dikenal Dunia

oleh -35 Dilihat
oleh

Ratusan kendaraan hias baik Lokal, Nasional hingga Inteenasional sedang parade di TIFF 2026.(Foto:ist).

Tomohon, Infosulut.id – Langit cerah nan biru disertai dengan angin sepoi – sepoi dan udara sejuk yang menyelimuti kaki Gunung Lokon dan Mahawu membawa atmosfer yang berbeda dari biasanya.

Kota Tomohon Provinsi Sulawesi Utara, sedang merayakan ajang internasional pada Sabtu (08/08/2026) itu, yang bernama Tournament of Flowers (TOF) yang menjadi salah satu agenda utama Tomohon International Flower Festival (TIFF) 2026.

Ratusan kendaraan berhiasan bunga warna – warni yang cantik, sedang memulai parade di TIFF tersebut.

Ajang internasional itu, telah bermutasi menjadi sebuah karnaval peradaban, di mana lanskap kota ditransformasikan menjadi kanvas estetika raksasa.

TIFF memiliki nilai strategis. Sebuah festival yang awalnya dikenal sebagai pesta bunga dan pariwisata, kini dapat menjadi etalase ekonomi Sulawesi Utara.

TIFF 2026 yang mengusung tema “Collaboration of Spirit” menghadirkan wajah yang lebih luas dari sekadar pesta bunga. Di satu sisi, bunga-bunga lokal menjadi daya tarik utama yang menghiasi kendaraan dan panggung festival.

Di sisi lain, bunga tersebut menjadi simbol bagaimana potensi lokal dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi.

Dari petani dan pedagang bunga, pelaku UMKM, hingga sektor investasi dan ekonomi digital, semuanya berada dalam satu ekosistem yang bergerak bersama menunjang TIFF tersebut.

TIFF 2026 tidak hanya menjadi panggung promosi pariwisata, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ruang untuk menggerakkan ekonomi lokal, memperkenalkan produk UMKM, membuka peluang investasi, hingga memperluas penggunaan transaksi digital.

Bicara soal petani dan pedagang bunga, Femmy Tarore umur 71 Tahun yang tinggal di Kelurahan Kaskasen Tiga, Lingkungan Dua Kota Tomohon pun angkat suara.



Femmy Tarore pedagang bunga di Tomohon sedang berada di tempat usaha jualan bunganya pada Sabtu (08/08/2026).(Foto:Julkifli M).

Wanita cantik yang sudah lansia ini pada Sabtu (08/08/2026) berbicara, TIFF berdampak positif bagi mereka.Kata dia, sebagai penjual bunga di momentum kegiatan seperti ini adalah hari yang di tunggu-tungunya.

Kata dia, usaha keluarga turun temurun yang dia kelolanya itu banyak hasil yang didapat pada momentum TIIF.

“Kami kalau tidak ada TIFF jualan bunga kurang yang beli. Ya biasanya pendapatan Rp 200.000 hingga 300.000 per hari kalau ada kegiatan ini mencapai Rp 1.000.000 hingga Rp 2.000.000 per hari,”jelas wanita kelahiran 23 Oktober 1955 di Kota Bitung ini.


Tempat usaha milik Femmy Tarore berada di jalan utama Kota Tomohon.(Foto:Julkifli M).

Dia pun menjelaskan bahwa usaha keluarga turun temurunnya sudah hampir 50 Tahun berdiri dan Anak kedua dari delapan bersaudara.

“Bunga kami jual per batang Rp10.000 dan ada per pot Rp 35.000,” kata suami dari Bert Mandagi yang sudah Almarhum ini.

Untuk mempermudah transaksi pembayaran agar aman praktis dan cepat kata dia, sudah menggunakan sistem pembayaran digital QRIS dalam aktivitas ekonomi sehari-harinya.

“Usaha kami semakin terbiasa menggunakan transaksi pembayaran digital sampai saat ini,”katanya.

Anak dari Yohanis Tarore ini pun mengatakan bahwa usahanya buka
setiap hari dari pagi jam 09.00 Wita hingga malam jam 20.30 Wita.

“Kami juga bersyukur bisa dapat pinjaman KUR dari Bank BRI untuk majukan usaha ini,”kata anak dari Yohana Tangka Warouw ini.

Dia menambahkan, hari ramai pembeli juga kalau ada perayaan hari raya umat kristen seperti Natal 25 Desember dan Pengucapan syukur.

“Semoga TIFF kedepan akan lebih baik lagi dan bisa berdampak pada kami para petani dan pedagang bunga untuk peningkatan ekonnomi,”kata mama dari tiga anak ini.

Dia berharap TIFF bukan hanya tentang bagaimana Tomohon memperlihatkan keindahan bunganya kepada dunia, tetapi juga tentang bagaimana keindahan itu diubah menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat khususnya di Kota Tomohon.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan TIFF 2026.

Bagi BI Sulut, festival bunga internasional tersebut merupakan momentum strategis untuk mengangkat potensi komoditas bunga yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi masyarakat Tomohon.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto pada Sabtu (08/08/2026), mengatakan bunga bukan sekadar elemen dekorasi dalam TIFF. Komoditas tersebut merupakan bagian dari potensi ekonomi lokal yang dapat dikembangkan lebih jauh, terutama melalui keterlibatan petani dan pelaku UMKM.


Kepala Kantor Perwakilan BI Sulut, Joko Supratikto.(Foto:Julkifli M).

“Tomohon International Flower Festival 2026 tentunya event yang memanfaatkan komoditas lokal yang ada di sini, yaitu bunga. Tapi selain itu, ini juga merupakan momen untuk pengembangan UMKM yang ada di lapangan Babe Palar,” ujar Joko.

Menurutnya, kekuatan TIFF justru terletak pada kemampuannya mempertemukan berbagai sektor sekaligus. Pariwisata menjadi pintu masuk, sementara UMKM, pertanian bunga, perdagangan, ekonomi kreatif dan investasi menjadi bagian dari mata rantai ekonomi yang ikut bergerak.


Kendaraan hias milik BI Sulut ikut berpartisipasi pada parade TIFF 2026, Sabtu (08/08/2026).(Foto:Ist).

Di sisi lain, BI Sulut juga melihat TIFF 2026 sebagai kesempatan untuk memperkenalkan potensi investasi Sulawesi Utara kepada dunia internasional.

Langkah tersebut dikaitkan dengan pelaksanaan North Sulawesi Investment Forum yang sebelumnya telah mempertemukan pemerintah dan calon investor untuk membahas berbagai peluang investasi di daerah.

Sejumlah duta besar internasional yang datang ke Sulawesi Utara turut diarahkan untuk melihat secara langsung berbagai potensi dan proyek investasi yang telah ditawarkan.

Joko mengatakan, kehadiran para perwakilan negara sahabat di Tomohon bukan sekadar untuk menyaksikan kemeriahan parade bunga. Mereka diharapkan dapat melihat langsung berbagai potensi daerah, mulai dari pariwisata hingga peluang investasi yang dapat dikembangkan.

“Kita rangkaikan dengan acara North Sulawesi Investment Forum. Para duta besar nanti juga kita ajak melihat proyek-proyek yang sebelumnya kita tawarkan,” jelasnya.

Menurut Joko, strategi tersebut penting karena promosi investasi tidak cukup hanya dilakukan melalui forum atau presentasi. Calon investor perlu melihat secara langsung potensi daerah, infrastruktur, sumber daya serta aktivitas ekonomi yang berkembang.

“Ini sangat luar biasa karena akan menarik pariwisata yang jelas memiliki efek domino yang sangat luar biasa kepada pengembangan ekonomi di Tomohon, tetapi juga di Sulawesi Utara,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, TIFF tidak lagi sekadar dihitung dari jumlah wisatawan yang datang atau kemeriahan parade kendaraan hias. Keberhasilannya juga dapat diukur dari seberapa besar festival tersebut mampu menciptakan transaksi, membuka pasar baru bagi UMKM, memperluas promosi investasi dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Kami BI Sulut juga membawa agenda transformasi ekonomi digital.
Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) terus didorong selama pelaksanaan kegiatan,”jelasnya.

Dia pun berharap agar Masyarakat maupun pelaku usaha semakin terbiasa menggunakan transaksi pembayaran digital yang praktis, cepat dan aman.

“QRIS juga dimanfaatkan dalam berbagai aktivitas selama festival, termasuk mendukung mekanisme pemungutan suara bagi peserta pameran,” jelas Joko.

Bagi dia, festival seperti TIFF merupakan ruang yang efektif untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan digital. Ribuan pengunjung yang hadir dapat sekaligus mengenal dan menggunakan sistem pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Irene Umar saat memberikan sambutan di pembukaan TIFF 2026 pada Sabtu (08/08/2026), menilai Tomohon memiliki kekhasan yang dapat membawa identitas lokal ke panggung internasional.


Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, Irene Umar saat memberikan sambutan di pembukaan TIFF 2026 pada Sabtu (08/08/2026).(Foto:ist).

Menurut Irene, Tomohon tidak hanya dapat dikenal sebagai kota bunga, tetapi juga memiliki produk khas seperti Krisan Kulo dan Krisan Riri yang berpotensi menjadi bagian dari kekuatan ekonomi kreatif daerah.

“Festival ini menjadi satu cara untuk melihat bahwa satu kota kecil seperti Tomohon bisa mendunia, bukan hanya sebagai kota bunga tapi kota yang punya specialty seperti Krisan Kulo dan Krisan Riri,” ujar Irene saat menghadiri pembukaan.

Ia berharap semakin banyak wisatawan mancanegara maupun domestik datang ke Tomohon.

Namun, potensi TIFF menurut Irene tidak berhenti pada jumlah kunjungan wisatawan. Festival ini juga membuka ruang untuk business to business (B2B) matching, perdagangan dan investasi.

“Impact-nya tentu banyak. Orang datang ke sini bukan hanya nonton festival tetapi juga ada business to business (B2B) matching, trade, dan investment yang terjadi di sini,” katanya.

Sementara itu, Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, saat pembukaan TIFF 2026 pada Sabtu (08/08/2026)
mengatakan, apresiasi kepada Pemerintah Kota Tomohon, panitia pelaksana, serta seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menyukseskan pelaksanaan TIFF 2026.


Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus, SE, saat pembukaan TIFF 2026 pada Sabtu (08/08/2026).(Foto:Julkifli M).


Menurut Gubernur, TIFF tahun ini memiliki makna istimewa karena merupakan penyelenggaraan ke-14 dan tetap menjadi bagian dari Kharisma Event Nusantara (KEN) 2026.

“Keberadaan bunga-bunga segar yang menghiasi Kota Tomohon bukan sekadar memperindah parade, tetapi menjadi gambaran nyata kemakmuran alam, kreativitas masyarakat, sekaligus karya anak bangsa yang mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian daerah dan nasional,”kata dia.

Gubernur Yulius menegaskan, semangat “Collaboration of Spirit” harus diterjemahkan dalam kerja nyata dan memberikan manfaat langsung kepada masyarakat.

“Dampak kolaborasi tersebut terlihat dari keterlibatan 37 petani bunga lokal yang secara swadaya menyiapkan sekitar 353 ribu pohon krisan untuk mendukung pelaksanaan TIFF 2026,”jelas Yulius.

Sementara itu, kata dia, sebanyak 35 float yang terdiri atas 17 float besar dan 18 float kecil terdaftar dalam parade tahun ini. Kehadiran kendaraan hias tersebut diperkirakan menyerap lebih dari 210 ribu pohon bunga segar.

“Dari kebutuhan bunga tersebut, diperkirakan terjadi perputaran ekonomi lebih dari Rp840 juta di tingkat petani,”ungkap dia.

Gubernur menilai angka tersebut menunjukkan bahwa festival pariwisata dapat memberikan efek domino terhadap berbagai sektor ekonomi masyarakat, mulai dari petani, perajin, dekorator, kuliner, perhotelan hingga transportasi.

“Semoga TIFF dapat memberikan dampak strategis bagi pembangunan di Sulut dan sekaligus mendukung kemajuan pariwisata Indonesia serta
TIFF tidak hanya menjadi ajang menampilkan keindahan dan keberagaman flora Kota Tomohon, tetapi juga menjadi ruang untuk membuka peluang investasi, mempromosikan potensi agrowisata unggulan serta mempererat persahabatan dan diplomasi budaya antarnegara,”tutup dia.

Pelaksanaan TIFF 2026 sekaligus memperkuat citra Tomohon sebagai Kota Bunga dan Sulawesi Utara sebagai salah satu destinasi unggulan pariwisata Indonesia yang memiliki kekuatan pada kekayaan alam, budaya, kreativitas masyarakat dan semangat kolaborasi.

Tuan rumah kegiatan, Wali Kota Tomohon Caroll J.A. Senduk mengatakan, TIFF tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi telah berkembang menjadi kekuatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan kerja, memperkuat identitas budaya, hingga meningkatkan daya saing Kota Tomohon.


Wali Kota Tomohon Caroll J.A. Senduk bersama Utusan Khusus Seychelles dan 10 Duta Besar sukses menggelar Diplomatic Tour TIFF 2026, meresmikan Koperasi Sapi Perah, dan deklarasi Tomohon Zero Waste.(Foro:Ist).


“Kami terus menjadikan pariwisata sebagai leading sector yang mampu menggerakkan berbagai sektor pembangunan dan memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat Kota Tomohon,” kata Caroll pada Sabtu (08/08/2026).

Caroll menjelaskan, Tomohon memiliki modal besar di sektor pariwisata melalui kekayaan alam, budaya, serta potensi hortikultura dan florikultura yang telah menjadi identitas sebagai Kota Bunga.

“Selain keindahan bunga dan tanaman hias, Tomohon juga memiliki destinasi wisata, budaya, dan ekonomi kreatif yang terus dikembangkan untuk menarik wisatawan nasional maupun mancanegara,”ujarnya.

Lanjut Caroll, penyelenggaraan TIFF merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menghadirkan inovasi dan kolaborasi untuk memajukan sektor pariwisata.

“Ini juga sebagai ruang kolaborasi yang mempertemukan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, budaya, dan inovasi masyarakat,”kata dia.

Caroll menjelaskan, penyelenggaraan TIFF memberikan efek berganda bagi berbagai sektor, mulai dari perdagangan, UMKM, perhotelan, kuliner, transportasi hingga industri kreatif.

“Dengan adanya TIFF ini, minat investor untuk berinvestasi di Tomohon terus meningkat,”katanya.

Dijelaskan dia, dalam waktu dekat akan dibangun hotel berbintang empat, disusul pembangunan Hotel Metland Marron dan Hotel Roger.

Kunjungan Wisatawan di Sulut terus meningkat sampai saat ini.


Kunjungan wisatawan mancanegara di Sulut pada Juni 2026 mencapai 8.023 kunjungan, naik 106,57 persen year-on-year (y-on-y).(Foto: Dokumentasi BPS Sulut).

Berdasarkan data BPS Sulut melalui link Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di Sulawesi Utara pada Juni 2026 mencapai 8.023 kunjungan, naik 106,57 persen year-on-year (y-on-y).

Tingkat Penghunian Kamar di hotel bintang pada Juni 2026 mencapai 48,98 persen, naik 4,99 poin (y-on-y).

Jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) pada Juni 2026 mencapai 1.484 perjalanan, naik 31,79 persen (y-on-y).

Jumlah perjalanan wisatawan nusantara pada Juni 2026 mencapai 1.252.768 perjalanan, turun 5,24 persen (y-on-y).

Penulis : Julkifli Madina