Manado, Infosulut.id – Sebuah anomali menarik terjadi pada peta ketenagakerjaan di Sulawesi Utara.
Lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang seharusnya siap kerja karena menitikberatkan pada keterampilan, justru mendominasi angka pengangguran di daerah ini.
Hal ini diungkapkan secara blak-blakan oleh Plt Kadisnakertrans Sulut, Noldy Salindeho, saat menjadi narasumber dalam forum dialektika “Ngopi Bareng JIPS” di Kantin PKK Kantor Gubernur Sulut, Jumat (17/7/2026).
”Jadi anomali, justru lulusan SMK lebih banyak yang menganggur, padahal pendidikan SMK titik beratnya pada keterampilan. Ini yang perlu kita benahi bersama,” ujar Salindeho di hadapan para anggota Jurnalis Independen Pemprov Sulut (JIPS).
Kondisi ini berbanding terbalik dengan lulusan pendidikan tinggi vokasi seperti Politeknik Negeri Manado (Polimdo).
Menurut Salindeho, mahasiswa Politeknik justru lebih banyak terserap di dunia kerja, bahkan berhasil menembus pasar internasional melalui program magang dan kerja di luar negeri, seperti ke Jepang.
Keberhasilan ini didorong oleh pembekalan keterampilan kerja yang matang serta penguasaan bahasa asing (Inggris dan Jepang).
Melihat tingginya serapan tenaga kerja di luar negeri, Disnakertrans Sulut bergerak proaktif.
Tidak hanya memfasilitasi koordinasi dengan lembaga pendidikan, Pemprov Sulut juga menghadirkan solusi pembiayaan bagi masyarakat yang ingin mengadu nasib di luar negeri.
“Kami sedang mengusahakan program Kredit Usaha Rakyat (KUR) Migran yang bekerja sama dengan Bank Sulutgo (BSG) untuk meringankan modal awal tenaga kerja yang hendak ke luar negeri,” pungkasnya.(Kifli).
Kadisnakertrans Sulut Soroti Pengangguran SMK dan Peluang Kerja ke Luar Negeri
