BPS : Inflasi Sulut Tembus 8,07 Persen

oleh -21 Dilihat
oleh
Manado, Infosulut.id – Badan pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara merilis perkembangan tujuh indikator strategis yang menggambarkan dinamika inflasi, sektor pertanian, perdagangan luar negeri, pariwisata, transportasi selama September dan Oktober 2026, luas panen dan produksi padi, serta luas panen dan produksi jagung angka sementara tahun 2026.

Sulawesi Utara Mengalami Inflasi pada Oktober 2026

Pada Oktober 2026 Sulawesi Utara mengalami inflasi sebesar 0,57 persen dibandingkan September 2026. Sementara itu, inflasi tahun kalender (Januari–Oktober 2026) tercatat 7,96 persen dan inflasi tahunan mencapai 8,07 persen.

Inflasi terutama didorong oleh kenaikan harga tomat, cabai merah, cabai rawit, daun bawang, dan beras. Di sisi lain, penurunan harga ikan selar/ikan tude, ikan malalugis/ikan sorihi, ikan cakalang/ikan sisik, ikan deho, dan daging babi menjadi faktor penahan inflasi.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan dengan kenaikan sebesar 1,26 persen.

Nilai Tukar Petani (NTP) Sulawesi Utara pada Oktober 2026 tercatat 136,13, naik 6,09 persen dibandingkan September 2026.

Peningkatan terjadi pada subsektor hortikultura yang naik 28,83 persen dan naiknya subsektor peternakan sebesar 0,74 persen, terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga tomat. Sebaliknya, subsektor perikanan, perkebunan rakyat, dan tanaman pangan mengalami penurunan.

Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga meningkat 6,11 persen menjadi 148,62 menunjukkan kemampuan usaha pertanian dalam menutupi biaya produksi mengalami penguatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekspor Sulawesi Utara Tumbuh pada September 2026

Nilai ekspor Sulawesi Utara pada September 2026 mencapai US$119,91 juta, turun 10,42 persen dibandingkan September 2025. Secara kumulatif Januari–September 2026, nilai ekspor mencapai US$968,61 juta, naik 4,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Komoditas ekspor terbesar masih berasal dari lemak dan minyak hewani/nabati dengan kontribusi sekitar 72,08 persen terhadap total ekspor.

Sementara itu, nilai impor September 2026 mencapai US$35,84 juta, meningkat 101,79 persen secara tahunan. Dengan perkembangan tersebut, neraca perdagangan Sulawesi Utara pada September 2026 tetap mencatat surplus sebesar US$84,07 juta, sedangkan surplus kumulatif Januari–September 2026 mencapai US$783,94 juta.

Pariwisata Tumbuh, Wisatawan Asal Korea Selatan Mendominasi

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sulawesi Utara pada September 2026 mencapai 10.184 kunjungan, menurun secara bulanan, namun secara tahunan mengalami peningkatan. Wisman didominasi oleh wisatawan asal Korea Selatan sebanyak 5.047 kunjungan atau sekitar 49,56 persen dari total kunjungan.

Sementara itu, perjalanan wisatawan nasional (wisnas) mencapai 781 perjalanan. Jumlah ini meningkat secara tahunan, namun menurun secara bulanan. Perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) tujuan Sulawesi Utara mencapai 1,24 juta perjalanan. Dari sisi akomodasi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang meningkat menjadi 49,82 persen, lebih tinggi dibandingkan September 2025.


Mobilitas Udara dan Angkutan Laut Mengalami Penurunan

Jumlah kunjungan kapal pada September 2026 mencapai 836 unit, mengalami penurunan 10,78 persen dibandingkan September 2025. Sementara itu, jumlah penumpang laut menunjukkan penurunan, dengan penumpang berangkat menurun 29,34 persen, sedangkan penumpang datang menurun 28,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Mobilitas udara juga menunjukkan penurunan seperti mobilitas angkatan laut pada September 2026. Jumlah penumpang angkutan udara mencapai 139,92 ribu orang, mengalami penurunan sebesar 6,07 persen dibandingkan September 2025.

Angka Sementara Luas dan Produksi Padi 2026

Luas padi pada tahun 2026 mencapai 55,41 ribu hektare, mengalami penurunan sebesar 4,51 ribu hektare atau 7,52 persen dibandingkan luas panen padi pada 2025 yang sebesar 59,91 ribu hektare.

Sedangkan produksi padi pada 2026 yaitu sebanyak 257,81 ribu ton gabah kering giling (GKG), mengalami penurunan sebanyak 7,30 ribu ton atau 2,75 persen dibandingkan produksi padi pada 2025 sebanyak 265,11 ribu ton GKG. Sementara itu, jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi beras pada 2026 mencapai 144,87 ribu ton.

Angka Sementara Luas dan Produksi Jagung 2026

Luas panen jagung pipilan pada 2026 diperkirakan sebesar 24,15 ribu hektare, mengalami penurunan sebesar 2,12 ribu hektare atau 8,06 persen dibandingkan luas panen pada 2025 yang sebesar 26,27 ribu hektare.

Produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada 2026 diperkirakan sebanyak 101,94 ribu ton, mengalami penurunan sebanyak 6,43 ribu ton atau 5,93 persen dibandingkan pada 2025 yang sebanyak 108,37 ribu ton.

Kepala BPS Sulut Dr Watekhi menyimpulkan Secara umum, bahwa perkembangan indikator strategis Sulawesi Utara pada September–Oktober 2026 menunjukkan pergerakan yang beragam.

“Tekanan harga meningkat dan tercermin dari inflasi Oktober yang cukup tinggi, terutama akibat kenaikan harga komoditas pangan”kata Watekhi .

Pada saat yang sama, NTP dan NTUP meningkat, terutama didukung kenaikan harga pada subsektor hortikultura.

Pada saat yang sama, NTP dan NTUP meningkat, terutama didukung kenaikan harga pada subsektor hortikultura.


Dari sisi eksternal, beber Watekhi kinerja perdagangan tetap positif dengan surplus neraca perdagangan yang cukup besar.

“Sektor pariwisata juga menunjukkan perkembangan positif melalui peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara dan TPK hotel berbintang,”ujar Watekhi.

Sementara mobilitas udara meningkat, meskipun mobilitas penumpang melalui angkutan laut mengalami penurunan,”ungkap Watekhi.

Sedangkan luas panen dan produksi baik padi maupun jagung pada tahun 2026 merupakan angka sementara mengalami penurunan.

Namun demikian, realisasi angka tetap akan bergantung pada kondisi sepanjang Oktober hingga Desember tahun 2026,”tutupnya.(Kifli).