Rahasia di Balik Sosok Tangsin: Ritual Penyucian Diri dan Makna Mendalam Cap Go Meh

oleh -127 Dilihat
oleh

(Info Foto : Wawancara Eksklusif dengan Rohaniawan (Ceng It) tertua Tridharma di Sulawesi Utara, Ronny Loho atau akrab di sapa Kho Co/Minggu 1 Maret 2026)

Manado, Infosulut.id – Perayaan Cap Go Meh selalu menjadi magnet budaya yang dinanti masyarakat, khususnya di Sulawesi Utara. Namun, di balik aksi heroik para Tangsin (wadah roh suci) yang memukau, terdapat proses spiritualitas yang sangat ketat dan penuh disiplin. Minggu (1/3/2026) Kota Manado.

Ronny menjelaskan bahwa syarat utama menjadi Tangsin adalah kemampuan menjaga perilaku dan menjadi teladan bagi umat. Roh suci tidak akan sudi memasuki raga seseorang yang masih memiliki kebiasaan buruk.

“Seseorang yang memiliki kebiasaan tidak baik, seperti mabuk-mabukan, tidak akan bisa dimasuki oleh roh suci. Roh suci hanya akan memilih badan kasar mereka yang telah menyucikan hati dan pikirannya,” ujar Ronny

Salah satu syarat mutlak yang harus dijalani calon Tangsin adalah Puasa khusus yang disebut Cia Cai. Dalam bahasa Hokkien, Cia berarti makan dan Cai berarti sayur. Namun, maknanya melampaui sekadar menjadi vegetarian.

Tujuan utama dari Cia Cai adalah:

Meredam Emosi: Menghindari konsumsi daging yang dianggap bersifat “panas”.

Menanamkan Kesabaran: Melatih pengendalian diri agar bisa menjinakkan nafsu duniawi.

Kesiapan Raga: Memastikan tubuh dalam keadaan bersih sebelum prosesi spiritual dimulai.

Dalam tradisi Tridharma, Tangsin dianggap sebagai penuntun umat. Melalui prosesi Tian Hiang, para Tangsin keluar untuk memberikan berkat kepada masyarakat yang telah menyiapkan meja sembahyang di sepanjang jalan. Tak hanya itu, mereka juga berperan memberikan petunjuk spiritual bagi warga yang sedang menghadapi persoalan hidup.

Disamping itu, ia juga menjelaskan makna dibalik perayaan Cap Go Me, yang jatuh pada malam ke-15 bulan pertama (Yuan Xiao) saat bulan purnama. Nama ini diambil dari kata Cap Go (lima belas) dan Me (malam). Lebih dari sekadar atraksi budaya, Ronny menekankan bahwa esensi perayaan ini adalah tentang kerukunan dan catatan kebaikan.

“Perayaan ini bertujuan merukunkan semua suku, baik Kek, Kantong, Hokkien, dan lainnya dalam semangat kebersamaan. Roh suci turun ke bumi untuk memberikan berkat dengan melihat catatan amal kebajikan setiap orang,” pungkasnya.

Penulis : Redaksi Infosulut.id