Perekonomian Sulut di Triwulan IV 2022 Tumbuh 5,20 Persen (yoy)

oleh -20 views

Manado, Infosulut.id – Di tengah ketidakpastian ekonomi global, perekonomian Sulawesi Utara Triwulan IV 2022 tumbuh 5,20% (yoy) seperti data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Sulut .

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulut Andry Prasmuko mengatakan meski pertumbuhan tersebut lebih rendah dari triwulan sebelumnya sebesar 6,62% (YOY), namun capaian tersebut lebih tinggi dari angka nasional sebesar 5,01% (yoy).

“Kinerja perekonomian Sulut tersebut, ditopang oleh berlanjutnya perbaikan permintaan domestik didukung meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru,” kata Prasmuko, Selasa (07/02/2023).

Ke depan, kata Prasmuko, perekonomian Sulut tahun 2023 diprakirakan tetap kuat, terutama didukung oleh perbaikan konsumsi rumah tangga. Namun demikian, perlambatan ekonomi global sebagai dampak ketegangan geopolitik Rusia dan Ukraina berpotensi menahan kinerja perekonomian Sulut terutama dari Sisi eksternal.

” Menjaga permintaan masyarakat tetap stabil adalah kunci dalam menopang kinerja perekonomian Sulut, di samping peluang dari pemulihan sektor pariwisata melalui penyelenggaraan event internasional, pembukaan penerbangan luar negeri, optimalisasi belanja pemerintah, dan percepatan adaptasi pada ekonomi digital.,” ujarnya.

Menurut analisis BI Sulut, dari Sisi Permintaan, kinerja perekonomian Sulut pada triwulan IV 2022 ditopang oleh menguatnya kinerja komponen Konsumsi RT dan Investasi, di tengah kontraksi Ekspor dan Konsumsi Pemerintah.

Pertumbuhan Konsumsi Rumah Tangga sebesar 7,66% (yoy), ditopang oleh peningkatan permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru. Pembentukan Modal Tetap Bruto atau Investasi tumbuh 5,28% (yoy) sejalan dengan peningkatan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri sebesar 478,34% (YOY), di tengah kontraksi Penanaman Modal Asing.

Sementara itu, Ekspor terkontraksi 9,26% (yoy) yang disebabkan penurunan ekspor luar negeri sebesar 23,30% (yoy) terutama ekspor Lemak dan Minyak Hewan Nabati dan penurunan kinerja Impor yang terkontraksi 8,07% (yoy).

Selanjutnya, turunnya realisasi belanja modal juga menyebabkan terjadinya kontraksi pada Konsumsi Pemerintah sebesar 0,03% (yoy).

Pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat juga tercermin dari kinerja lapangan usaha Pertanian, Perdagangan, dan Konstruksi, di tengah perlambatan Industri Pengolahan dan Transportasi. Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan tumbuh 6,35% (YOY), ditopang oleh kenaikan volume ekspor perikanan dan kenaikan produksi padi.

Perdagangan Besar dan Eceran tumbuh 10,77% (YOY), ditopang oleh peningkatan permintaan masyarakat pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional Natal dan Tahun Baru. Konstruksi juga tumbuh 8,41% (yoy) sejalan dengan peningkatan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri.

Lapangan usaha yang pertumbuhannya melambat adalah Industri Pengolahan yang hanya tumbuh 7,71% (YOY), disebabkan penurunan kinerja industri pengolahan minyak nabati.

Demikian halnya dengan Transportasi dan Pergudangan dengan pertumbuhan 0,05% (YOY), yang disebabkan oleh penurunan kinerja Angkutan Udara.(Kifli).