Harga Barito Masi Tinggi di Sulut, Ini Penjelasan Kepala BI Sulut

oleh -90 views

Manado, Infosulut.id – Harga bawang merah, rica (cabai), dan tomat di Sulawesi Utara belum kembali normal. Harga bawang merah masih sekitar Rp 85 ribu per kilogram. Begitu juga dengan harga rica masih berkisar Rp 90 ribu dan harga tomat sekitar Rp19 ribu per kilogram.

Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) pun angkat bicara terkait melambungnya harga barito ini. Seperti yang disampaikan Kepala KPw BI Arbonas dalam keterangan resminya, Kamis (22/6/2022).

“Apabila ditinjau sejak tahun 2020, kenaikan harga-harga tersebut khususnya cabai dan bawang merah pada dasarnya masih normal, meskipun pergerakan harga komoditas tersebut memang lebih tinggi sejak awal tahun 2022,” kata Arbonas.

Dikatakan Arbonas bahwa meningkatnya volatilitas harga ketiga komoditas tersebut yang terjadi secara nasional, disebabkan oleh pertama, kenaikan harga pupuk. Secara umum, kenaikan harga tanaman pangan disebabkan oleh kenaikan harga pupuk yang telah terjadi sejak awal 2021, dan terus memburuk sampai 2022.

“Kenaikan harga pupuk tersebut disebabkan oleh meningkatnya harga bahan baku global (Nitrogen, Fosfat, dan Kalium) dengan volume kebutuhan terbesar yaitu Kalium (KCl/potas). 40% dari kebutuhan potas diimpor dari Rusia dan Belarus yang tentunya terdampak konflik geopolitik Rusia-Ukraina. Terhitung Juli 2022 pupuk subsidi dibatasi pada jenis urea dan NPK, dengan jenis komoditas yang bisa mendapatkan pupuk bersubsidi tersebut mengacu pada Perpres 59/2020 yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kopi rakyat dan kakao rakyat,” papar Arbonas.

Sebab kedua adalah fenomena La Nina. Fenomena La Nina saat ini masih terpantau menguat di semester kedua 2022. La Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi, sehingga menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia selain angin muson. Tingginya curah hujan juga menjadi faktor yang menyebabkan gagal panen di sejumlah sentra produksi hortikultura.

“Pada Januari-Februari, hasil pantauan indeks BMKG menunjukkan bahwa La Nina sudah berkurang intensitasnya menuju intensitas lemah (indeks sekitar -0.9 hingga -0.8). Namun pada Maret-April, indeks La Nina menguat kembali dan indeks berkisar -1 . 1 (intensitas sedang),” demikian ditambahkan Arbonas.

Di samping iłu, fenomena La Nina yang menguat menjelang periode pergantian musim hujan ke musim kemarau tahun ini berdampak pada mundurnya musim kemarau di Indonesia yang berpotensi menyebabkan bergesernya siklus tanam dan panen komoditas hortikultura. Namun demikian, berdasarkan Data Statistik Pertanian Hortikultura (SPH), pada bulan April dan Mei 2022 terjadi peningkatan luas tanam pada berbagai sentra produksi bawang di Jawa maupun Luar Pulau Jawa, sehingga diharapkan harga bawang akan kembali normal pada Juni-Juli.

“Pada tanaman cabai rawit, selain masalah kenaikan harga pupuk, kenaikan harga cabai juga disebabkan turunnya produksi akibat musim hujan berlangsung lebih lama akibat fenomena La Nina yang masih terjadi hingga Mei yang menyebabkan banyaknya tanaman rusak. Selain iłu, faktor hama juga ikut memperburuk masalah di berbagai sentra cabai rawit seperti Tuban dan Gorontalo,” jelasnya.

Ketiga yakni terjadi peningkatan permintaan menjelang Idul Adha. Dari Sisi permintaan, kenaikan harga bawang merah, cabai rawit, dan tomat juga diperkirakan disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat menjelang Idul Adha pada Juli 2022.

“Harga bawang merah di Sulampua pada Juni 2022 tercatat paling tinggi secara nasional, dilanjutkan dengan Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Di Sulampua sendiri, beberapa provinsi seperti Gorontalo, Sulut, Maluku, Sulteng, dan Sulsel mengalami peningkatan harga, sementara 5 provinsi lainnya cenderung stabil,” terangnya lagi.

Kenaikan harga bawang merah di Sulut salah satunya juga disebabkan oleh meningkatnya harga bawang merah di sentra pemasok bawang merah Sulut seperti Enrekang, Sulsel dan Bima, NTB. Di samping iłu, berdasarkan informasi dari pedagang di Sulut, pergerakan bawang merah di Sulut disebabkan oleh peningkatan harga di Kalimantan, sehingga daerah penghasil cenderung memilih untuk mengirimkan pasokan ke daerah tersebut yang menyebabkan pasokan di Manado berkurang.

“Harga cabai rawit di Sulampua menunjukkan tren peningkatan sejalan dengan harga nasional. Seluruh provinsi termasuk Gorontalo yang merupakan pemasok cabai rawit Sulawesi Utara mencatatkan kenaikan harga pada Juni 2022. Peningkatan harga cabai rawit di Sulut juga disebabkan oleh peningkatan harga di Jawa, Padang, dan Kalimantan Selatan, sehingga daerah penghasil cenderung memilih untuk mengirimkan pasokan ke daerah tersebut. Disamping iłu, terdapat informasi bahwa adanya gagal panen di Gorontalo akibat hama, dan beberapa petani baru memasuki masa tanam,” imbuhnya.

Sama halnya dengan tomat, adanya gagal panen akibat curah hujan tinggi, tingginya harga saprodi termasuk pupuk, serta tingginya permintaan ke luar daerah seperti Ternate dan Papua Barat menyebabkan pasokan di Sulawesi Utara cenderung berkurang.

“Kami Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) baik di tingkat Provinsi dan Kabupaten/Kota akan senantiasa melakukan pemantauan rutin terhadap harga dan pasokan, dengan tetap mempertimbangkan fenomena yang terjadi secara nasional,” pungkasnya.(Kifli).