Protokol Kesehatan Saat Pembelajaran Daring Dan Luring Di SMKN 2 Tahuna

oleh -910 views



Tahuna – Pada masa Pandemi Covid-19 saat ini, menjadi tantangan tersendiri bagi guru – guru di SMK Negeri 2 Tahuna.

Pembelajaran baru dengan meniadakan tatap muka dan mengganti dengan pembelajaran di dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring).

Dengan pembelajaran seperti ini, maka di SMKN 2 Tahuna ada 76,13 persen belajar daring dan sisanya 18.25 belajar luring.

“Kami gelar pembelajaran luring setiap dua minggu sekali turun kerumah siswa dengan membawah tugas yang akan dikerjakan siswa dan dua minggu kemudian akan diambil kembali tugasnya,” Ungkap Kepala SMK Negeri 2 Tahuna, Drs Mangesihi Junior Karaeng Senin (02/11).

Kata Kepsek Mangesihi, penerapan protokol kesehatan baik 3M yakni memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak wajib diterapkan saat pembelajaran daring dan luring dan ini semua guna memutus penyebaran Covid-19.

“Kami disini ada 356 siswa yang tersebar di 6 program keahlian yakni Kuliner, Kecantikan, Busana, Perhotelan, Keperawatan dan Farmasi,”Jelas Kepsek.

Dijelaskan Mangesihi, kendala dipulau saat ini adalah jaringannya bermasalah dimana ada beberapa Desa tidak terjangkau internet, maka mereka yang ikut daring langsung pindah belajar luring.

“Pembelajaran luring para guru melakukan kunjungan kerumah siswa yang dimulai pukul 08.00 pagi hingga berakhir pukul 21.00 malam karena lokasih siswa yang jauh dengan melewati pegunungan,”Ungkap Kepsek.

Menurut Kepsek Mangesihi dalam pembelajaran luring para siswa tidak dikumpul, tetapi para guru mengunjungi langsung kerumah siswa.

“Kami saat ini memiliki guru ASN 26 orang, guru THL10 orang dan guru honor 7 orang dengan kekurangan guru pada matapelajaran PKN dimana gurunya Januari 2021 akan pensiun dan guru produktif kecantikan tidak ada ASN hanya guru THL, guru keperawatan tidak ada ASN hanya guru THL serta farmasi hanya guru honorer,”Jelas Kepsek.

Sementara menurut, Dra Non Manangkalagi guru PKN menjelaskan, pembelajaran luring paling jauh siswa tinggal di Desa Malemenggu Kecamatan Tabukan Selatan.

“Kami para guru satukali turun 5 orang untuk kelokasi siswa dengan memakai mobil karena daerahnya yang jauh,”Kata Non Manangkalagi.

Dijelaskan Non Manangkalagi,
guru membawah tugas pada siswa lalu para siswa membuat tugas itu dan dua minggu kemudian tugas diambil lagi.

“Kendala saat daring adalah jaringan yang kurang baik dirumah siswa dan para siswa mencari jaringan internet dengan menaiki atap rumah bahkan ada yang naik di pohon,”jelas Non Manangkalagi.

Tinggalkan Balasan